hujan di musim putus asa
Di sekretariat bersama yang dikepung hujan
“Hujan itu penuh inspirasi!” Ujar salah seorang sahabatku. Kudalami hal itu. Terlalu banyak orang yang mencoba mengilhami rintik hujan dengan pemikiran mereka sendiri. Aku sempat bertemu dengan teman dekatku yang sangat mencintai hujan. Hari-hari dia habiskan hanya untuk berkutat dengan kecintaannya itu, hujan. Tak peduli selelah apapun dia, sepenat apapun dia, jika hujan datang menghampiri, berusahalah dia menunjukkan kegembiraannya. Sampai kadang aku berasumsi, dia tersiksa dengan cintanya. Kenapa? Karena hujan terlalu egois, datang dan pergi begitu saja seolah-olah menguji kesetiaan sahabatku. Terkadang hanya memberi tanda-tanda, membuat sahabatku berharap tapi akhirnya hilang meninggalkannya.
Kasihan sahabatku yang disakiti hujan. Kadang hujan datang bertubi-tubi membuat sahabatku riang bukan main tapi itu hanya emosi sesaat dari hujan, setelah letih hujan pergi tanpa menyisakan cinta, hanya luka berbentuk luka di jalan-jalan. Sahabatku terluka.
Mungkin itu yang membuat ku tak suka dengan kehadiran hujan karena setiap bentuk kehadirannya hanya menyisakan pedih. Bahkan rintiknya yang dianggap romantis oleh kebanyakan orang memuakkanku. Aku tak suka pada hujan. Entah, mengapa sahabatku tak juga putus asa?bmengapa dia tak mencoba berhenti mencintai hujan yang teramat egois itu?
Yah! Mungkin dia mendalami apa yang selama ini sering aku katakan. ‘Biarlah seberapapun menderitanya aku. Jika itu yang bisa membahagiakan dia. Aku rela’. Apa mungkin kecintaannya pada hujan seperti kecintaanku pada lelaki peminumku? Kurasa tidak. Karena cintanya pada hujan adalah penderitaan terbesarnya yang dengan amat rela dijalaninya. Aku benci hujan.
Musim ini aku putus asa dengan lelaki peminumku dan hujan membuat perasaan itu menjadi-jadi. Terlalu sering aku putus asa di bulan-bulan penuh kabut dan serangan dingin seperti ini. Begitu banyak cerita sedih yang kukumpulkan di antara gempuran hujan. Akh! Lelah.. aku sangat lelah..
Hujan di musim putus asa membakar cintaku.
Kelu..
Setiap persedian dalam tubuhku
Hmm..
Lelaki peminumku..
Keu merasakannya jugakan??
Kelu yang kau tahan berusaha kau lenyapkan dengan dusta
Pedih yang dengan santai coba kau sembuhkan dengan tawa
Luka yang kau tawar dengan senyum
Lelaki peminumku..
Menyakiti diri sendiri kurasa tak perlu..
Karena itu egomu..
Aku hanya sisa kemunafikan
Yang tak mau kau tampung
Tak mau kau sembuhkan
Aku hanya secarik kertas penuh coretan
Kertas bekas..
Yah..
Kertas bekas..
Aku malu dengan diriku..
Aku malu dengan sahabatku..
Ternyata kertas bekas ini tak mampu kalahkan
Seorang pencinta hujan..
Aku telah putus asa..
puffy berkata,
12 Maret 2009 pada 2:47 pm
Hi.. thanks to visit my page.
I think Life is just a mirror, and what you see out there, you must first see inside of you.
Nice to know you Dear.
thanks.