rindu??? candu???!!

8 April 2009 at 9:46 am (catatan perih) ()

Buta? Jika memang langkahku terhenti di sini, kenapa aku masih mencoba melangkah? Ketika kerinduan itu berubah menjadi candu pada diriku, aku tidak keberatan menjalaninya. Bahkan, jika aku harus terus disini, menikmati candu sampai mati, aku tak peduli.

Aku terduduk lesu di antara reruntuhan pakaian, di dalam kamar, di kampung halaman…

Beberapa hari yang lalu aku pulang ke rumah. Aku datang di antara kenangan lama. Dengan suasana rumah yang tidak pernah bersahabat, dengan suasana kota yang tetap terbelakang, dan dengan aturan kuno yang masih saja menghentikan langkahku sejengkal, antara aku dan pria. Aku selalu dihadapkan dengan takdirku sebagai wanita ketika kembali ke rumah, oleh Ayah. Mungkin tidak sediktator sewaktu aku masih berseragam tapi tetap saja aku membenci peraturannya—yang tak pernah disadarinya sebagai awal perpecahan keluarga.

Kehadiran sosok keras kepalaku juga akibat sifat keras kepalanya. Jadi, aku menjadi seperti ini juga merupakan salahnya. Aku membencinya, membenci masa lalunya, membenci kebodohannya menyakiti hati Ibuku. Terkadang aku menyesali kehadiranku di keluarga ini, sedangkan teman-teman masa berseragamku begitu bahagia dengan keluarga mereka yang biasa-biasa saja bahkan ada yang terlihat menikmati persahabatan mereka dengan keluarga. Sedangkan aku harus selalu bersitegang dengan mereka, untuk yang sesepele rasa garam—pun.

Yah! Aku kembali ke sini untuk beberapa hari ke depan. mungkin aku akan merindukan dunia bebasku di sana. Aku mencoba mengalihkan perhatianku dengan kesibukan di komunitas lamaku, dan luka yang masih ada di sana.

“Sudah berapa bulan?” Tanyaku menyembunyikan sakit akibat pertanyaan itu. Sekarang aku tengah berada bersama Dia dan dua orang sahabat.

“Dua bulan hampir tiga. Akhir minggu ini akan ada ritual tiga bulanan di rumah jadi aku tidak bisa menemani adik-adikmu latihan,” Jawabnya yang sebenarnya menyayat hatiku kembali. Meski aku punya tiga cinta lain, tapi aku tau aku masih mencintai Dia walaupun tak secinta dulu.

“Wah!! Ampuh ya?!” Celetuk salah seorang sahabatku di sana.

“Ya iya lah! Kakakmu inikan sudah mendapat tutorial dan tidak mau kalah pengalaman, jadi, ya harus gol!!” Karibnya menambahkan.

“Halah! Kau sudah kepengen jugakan?” Sindirku. Sebenarnya itu akan lebih membahagiakan jika aku yang di sana, di singgasana bersamanya dan tak usah terluka semakin lama dengan kerelaan yang dipaksakan. Sayangnya, Dia lebih senang membahagiakan istrinya sekarang daripada aku.

Seolah kembali ke beberapa waktu silam, ketika aku masih berseragam dan masih bisa merasakan pelukannya. Hanya yang berubah, dia tak lagi sehangat dulu, dia tak lagi punya waktu, dia tak lagi sendiri, dan yang pasti, dia tidak lagi mencintaiku.

Aku masih berdiri, mencoba membuatnya terdustai oleh ketegaranku, ketegaran semu. Aku terus saja membanggakan kekasihku sekarang, Robert. Seolah ingin menunjukkan padanya aku bisa hidup tanpa dia. Meski dia tidak mencintaiku lagi aku sanggup hidup tanpa cintanya. Tanpa lembut kehangatan yang sempat dia berikan kepadaku.

Lalu sekarang aku terlibat rindu dengan Jack. Sudah dua minggu lebih dia menghilang dari hidupku. Entah, apa yang dia lakukan kini, mungkin dia sedang senang dengan kekasihnya, dengan wanita yang menemani. Aku hanya merindukan sosoknya yang lucu dan bisa menghiburku tanpa mempedulikan rentang usia yang begitu jauh. Rasanya aku terbelit perasaan duka karena tak ada yang bisa menghibur dan melepaskan suasana paling tidak menyenangkan dalam hidupku ini. Seharusnya aku bisa menyelesaikan sendirian mungkin, tapi aku butuh kehadiran Jack. Sangat membutuhkan.

Beberapa hari yang lalu dia sempat bilang jika dia sedang dalam keadaan minim finansial dan kekurangan stamina alias mulai sakit. Tetapi, entah kenapa aku sedikit merasa iri dan sakit hati karena dia sering membuat waktu malamku menjadi insomnia akut yang semakin parah. Terkadang tiba-tiba dia menghubungiku lantas menyuruhku menunggu, dia mengatakan jika dia akan menelpon sesaat setelah dia menelpon kekasihnya. Tapi, sejam, dua jam berlalu tanpa ada ucapan selamat malam padaku hingga suara kokok ayam meninabobokanku.

Aku lelah sebenarnya, tetapi aku tetap menunggu hanya untuk mendengarnya mengucapkan selamat malam padaku. Nihil. NIHIL. Tanpa hasil. Akhirnya, kerinduanku berubah menjadi candu yang menyakitkan untukku. Sangat menyakitkan. Tidak hanya hatiku yang menderita karena tak ada asupan tawa yang sedikit melegakan, bahkan otakku mulai ikut berteriak kesakitan seperti hendak berubah menjadi gila dan stress. Oh Jack!! Hanya kau yang bisa membuatku tertawa lepas, Robert tak sanggup untuk itu. Yang selalu ada dia malah menyakitiku dengan perhatiannya. Jack! Aku mohon..

Terima kasih untuk selalu membuatku menunggu. Aku lelah. Sangat lelah dengan kegiatan yang membuat kantung mataku semakin membesar. Jack! Jika kau bermaksud mengadu kesabaran denganku. Aku masih akan berusaha untuk memperlihatkannya. Tapi aku mohon, aku tidak akan kuat berlama-lama dengan ini. Aku takut rindu yang telah luluh menjadi candu ini semakin mengacaukan sistem otak dan sirkulasi darahku. Aku takut otakku meledak karena tak sanggup terus menunggumu.

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Papyrus; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Courier New”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
rindu menjadi candu

dan cinta hanya kegelisahan

aku teramat lelah

<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Papyrus; panose-1:0 0 0 0 0 0 0 0 0 0; mso-font-alt:”Courier New”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:script; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:3 0 0 0 1 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>


/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Tulis sebuah Komentar