Minta Mati, bukan menjadi Zombie
kehilangan otak yang kualami kini mencapai titik maksimal. aku tak bisa mengentaskan pesakitan dari dasarnya. bayangan masalahmasalah tanpa jalan keluar menjadi satu dalam barisan lukaku. otak yang kujadikan satusatunya opsi terakhir malah bersiapsiap mengakhiri hidupnya. hatiku sudah mati jauh sebelum otak ini siap meledak. lantas bagaimana aku hidup selanjutnya. atau zombie yang akan menjadi jalan hidupku? aku tak tau..
aku kehilangan semua yang pernah menghiasi hariku. tak akan ada lagi senyum palsu terakhirku, tawa bahagia tanpa suara, dan jantung yang berdetak. semua akan lenyap dalam satuan waktu yang tak bisa ditentukan. otakku berderak kehabisan energi untuk berfikir, dia butuh asupan rasa dan pelumas agar tak aus lantas terlepas, meledak, dan mengakhiri hidup.
doki doki doki doki…
aku merindukan bunyi ini dalam dadaku, aku merindukan getar tanpa nada yang mengusik di dalamnya. sekarang, jangankan berbunyi, bergetarpun tidak. aku kehilangan pusat kehangatan tubuhku itu. kehilangan untuk batas waktu yang tidak ditentukan dan mungkin takkan pernah ada lagi di dalam sana. aku hanya akan menjadi zombie yang hidup tanpa arti.
bagaimana kalau aku memilih dihancurkan seluruhnya? tanpa hati, otak, jantung, rasa, dan raga? lebih baik aku menjadi nyawa yang melayanglayang tanpa pegangan daripada hidup tapi dihancurkan sendiri oleh hidup itu. lebih baik.
satusatu menjadi kaitan pilu, luruh dan tenggelam dalam pasir hisap yang kejam..
hidupku melangkah kabur tanpa tujuan..
pesakitan menutup penglihatan dan seluruh kenyataan..
aku kehilangan hati jauh sebelum otakku berniat pergi..
dan kini..
aku meminta mati..
bukan menjadi zombie..