18 Maret ’09 di tahun ’10
hanya sejumput kerinduan yang terlepas dari sendi-sendi kenangan.
beberapa hari lagi kan kutemui 18 Maret penuh kenangan dan satu minggu sebelumnya.
yang sempat menghanyutkanku dalam kenangan penuh suka dan duka.
terbersit dalam diriku untuk lari menghindar dari kepungan mistis wajahnya.
baru beberapa hari yang lalu aku terlelap dan diberikan mimpi yang sangat nyata tentangnya.
mimpi yang membuatku sedikit ketakutan.
secepat inikah satu tahun berlalu?
secepat inikah segala kelu akan rindu datang menderu tanpa ampun?
secepat inikah harus kukecap pahit masa lalu?
padahal lukaku sendiri belum kering..
lukaku tak secepat itu sembuh..
ada sebaris rindu di antara hari seminggu sebelum 18 Maret..
rindu akan senyum dan malammalam yang sempat menjadi rangkaian malam terindah,
rindu yang aku tau tak kan bisa diobati meski aku bertemu dengannya.
karena ketika pertemuan itu ada, yang terjadi bukan kehangatan layaknya dua orang sahabat, tetapi dinginnya perang tak berujung..
aku lelah seperti ini,
sejujurnya..
tapi…
18 Maret ’09 jelas sangat berbeda dengan 18 Maret ’10