PASOKAN CINTA BERNAMA LUKA

24 Juni 2010 at 8:44 am (catatan perih)

Kedipkan matamu, nak! Jangan biarkan merah mewarnai mata indahmu itu, sudah terlalu lama kau biarkan air mata mengalir tanpa kau kedipkan mata indah itu. Aku sendiri lelah menyaksikan kisahmu, dan tentu aku tau sesakit apa kau menjalaninya. Jangan biarkan semua ini menjadi kisah pedih saja, kau pantas rasakan bahagia.

Nak! Aku mohon, hapus seluruh gundahmu, sakit yang kaurasakan di ujung pangkal penantian. Kegelisahan hanya semata luka. Pesakitan yang tak ada habisnya. Cinta berlebih itu menyakiti setiap inci hatimu, iyakan? Jangan kau bohongi dirimu lagi! Kau pantas nikmati cinta yang hakiki, bukan pasokan cinta bernama luka.
Sekarang lihat sendiri wajahmu di cermin itu! Lihat! Kau rapuh, kau telah habiskan segalanya. Kaubuang seluruh gelora yang menjadi hidupmu. Kaulepaskan. Dan pasokan itu menyakitkan.

Jangan biarkan hidupmu mati!!

“kulakukan apapun demi kau, Shinta!
Tapi kau mengiba pada Rahwana yang kejam..
dan aku tau kau tak lagi suci seperti dulu..” itu yang dikatakan Lelaki Hening yang kau cintai dan kau merelakan seluruh tuduhan dusta itu dengan hatimu yang lapang. Aku tak rela, Shinta! Gadis kelu yang dihancurkan kesetiaan. Lepaskan dia! Percuma kau genggam erat cinta atas kesetiaanmu, sedangkan dia menyuguhkan cinta bernama luka padamu.

Aku saja lelah, bagaimana dengan kau?! Kabuterluka?! Kesucianmu tak dipercayainya, padahal kau, Shinta! Kau adalah gadis suci yang menjaga cinta Rama dengan kesetiaanmu, tak kaubiarkan Rahwana sentuh kainmu barang seinci, kulitmu tak terjamah olehnya tapi Rama sama sekali acuh pada kesaksian Anoman dan kalung pemberiannya pembukti cinta dan kesetiaanmu.
Lelaki hening itu bukan orang yang tepat untuk kau, Gadis kelu pujaan para dewa. Lelaki hening itu yang semestinya mati di dalam api, bukan kau.

“Kau pembohong besar, Shinta!” Teriakan Rama ini masih mendengung di telingamu, sakit aku mendengarnya, bagaimana dengan kau??

Cukup Shinta! Cukup! Kumohon hentikan air matamu dan hentikan juga pasokan cinta bernama luka ini. Hentikan sekarang juga.

21 Juni 2010

Iklan

Permalink 1 Komentar

PElukaN

12 Juni 2010 at 5:13 am (catatan perih, hari-hari)

butuh.. bukan sebuah kata yang sulit untuk dimaknai. keinginan berlebih agar siapa/apa itu berada bersamanya.

jadi begini, sekarang sia butuh waktu lebih lama dari biasanya untuk menikmati waktu saia, sendiri saja. apa kira-kira Anda bisa merasakan saat seseorang butuh kesendirian? tanpa Anda tentu saja? yah! seperti itulah saia sekarang.. ingin menikmati..

menikmati pelukan kesendirian.. tanpa Anda..

Permalink 2 Komentar

18 Maret ’09 di tahun ’10

13 Maret 2010 at 5:28 am (catatan perih)

hanya sejumput kerinduan yang terlepas dari sendi-sendi kenangan.

beberapa hari lagi kan kutemui 18 Maret penuh kenangan dan satu minggu sebelumnya.

yang sempat menghanyutkanku dalam kenangan penuh suka dan duka.

terbersit dalam diriku untuk lari menghindar dari kepungan mistis wajahnya.

baru beberapa hari yang lalu aku terlelap dan diberikan mimpi yang sangat nyata tentangnya.

mimpi yang membuatku sedikit ketakutan.

secepat inikah satu tahun berlalu?

secepat inikah segala kelu akan rindu datang menderu tanpa ampun?

secepat inikah harus kukecap pahit masa lalu?

padahal lukaku sendiri belum kering..

lukaku tak secepat itu sembuh..

ada sebaris rindu di antara hari seminggu sebelum 18 Maret..

rindu akan senyum dan malammalam yang sempat menjadi rangkaian malam terindah,

rindu yang aku tau tak kan bisa diobati meski aku bertemu dengannya.

karena ketika pertemuan itu ada, yang terjadi bukan kehangatan layaknya dua orang sahabat, tetapi dinginnya perang tak berujung..

aku lelah seperti ini,

sejujurnya..

tapi…

18 Maret ’09 jelas sangat berbeda dengan 18 Maret ’10

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Minta Mati, bukan menjadi Zombie

10 Februari 2010 at 5:57 am (catatan perih, hari-hari)

kehilangan otak yang kualami kini mencapai titik maksimal. aku tak bisa mengentaskan pesakitan dari dasarnya. bayangan masalahmasalah tanpa jalan keluar menjadi satu dalam barisan lukaku. otak yang kujadikan satusatunya opsi terakhir malah bersiapsiap mengakhiri hidupnya. hatiku sudah mati jauh sebelum otak ini siap meledak. lantas bagaimana aku hidup selanjutnya. atau zombie yang akan menjadi jalan hidupku? aku tak tau..

aku kehilangan semua yang pernah menghiasi hariku. tak akan ada lagi senyum palsu terakhirku, tawa bahagia tanpa suara, dan jantung yang berdetak. semua akan lenyap dalam satuan waktu yang tak bisa ditentukan. otakku berderak kehabisan energi untuk berfikir, dia butuh asupan rasa dan pelumas agar tak aus lantas terlepas, meledak, dan mengakhiri hidup.

doki doki doki doki…

aku merindukan bunyi ini dalam dadaku, aku merindukan getar tanpa nada yang mengusik di dalamnya. sekarang, jangankan berbunyi, bergetarpun tidak. aku kehilangan pusat kehangatan tubuhku itu. kehilangan untuk batas waktu yang tidak ditentukan dan mungkin takkan pernah ada lagi di dalam sana. aku hanya akan menjadi zombie yang hidup tanpa arti.

bagaimana kalau aku memilih dihancurkan seluruhnya? tanpa hati, otak, jantung, rasa, dan raga? lebih baik aku menjadi nyawa yang melayanglayang tanpa pegangan daripada hidup tapi dihancurkan sendiri oleh hidup itu. lebih baik.

satusatu menjadi kaitan pilu, luruh dan tenggelam dalam pasir hisap yang kejam..

hidupku melangkah kabur tanpa tujuan..

pesakitan menutup penglihatan dan seluruh kenyataan..

aku kehilangan hati jauh sebelum otakku berniat pergi..

dan kini..

aku meminta mati..

bukan menjadi zombie..

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

MAK

9 Januari 2010 at 5:16 pm (catatan perih)

suatu hari luka-luka datang menyebar benih pembusukan,
suatu hari matahari mencipta penjebakan virusnya,
suatu hari mata hanya melihat tanpa berkata,
suatu hari jantung diisi oleh udara dan lambung penuh darah,
suatu hari otak mati berkarat,

mak, anakmu lelah dicekam huruf di telinga,
mak, anakmu tak ingin hidup dengan selang-selang udara berjejal di dada,
mak, anakmu tak ingin tidur membau sikotropika,
mak, anakmu tak ingin otaknya mti berkarat

ibu sayang padaku,
aku tau,
ibu membanggakan aku,
aku tau,
ibu berjuang demi aku.
demi anaknya yang tak tau diuntung ini..

mak, otak anakmu sudah berkarat, haruskah aku mencium bau ruang penuh obat lagi?
mak, anakmu butuh psikiater
mak, anakmu takut jadi gila
mak, anakmu tak mau mengunyah biji kopi kebanggaan suamimu
mak, anakmu tak ingin mengeja waktu sendiri smentara mamak harus menangis di malam sepi
mak, anakmu tak ingin mati dalam kehidupan

mak, anakmu kedinginan, peluk anakmu, mak!!

mak,,
anakmu ini takut tak bisa membahagiakanmu sedangkan engkau menanti kebanggaan itu dari anakmu ini..

mak, anakmu sayank padamu, sangat sayang padamu, mak!!
mak, tetaplah tegar! tetaplah berdiri, mak! anakmu yakin kita bisa melalui hari-hari penuh luka ini

Permalink 3 Komentar

air mata.. lagi..

10 November 2009 at 12:43 pm (catatan perih)

langkahku merapuh, seolah aku tak punya kedigdayaan untuk melangkahkan kakiku.
rindu yang menggulung pedih datang tiba2, menghancurkan kekuatan yang coba kubangun..
ternyata aku memang tak mampu mempertahankan senyum dusta ini..
ternyata aku memang tak mampu mempertahankannya demi diriku sendiri..

rasanya ingin kutenggelamkan driku..
kubunuh semua bakteri2 jahat penyebab luka ini,,
sekaligus jiwaku yang telah membusuk..
aku lelah!!!!!!!!!

aku benar-benar lelah.,,
dan air mata keluar dari sela mataku..
menghabisi keangkuhanku,,

bahagialah kau di sana bersama wanita bahagiamu..
biar aku di sini terpuruk oleh rindu tak berkesudahan..

selamat,,
selamat bagimu..
telah menghapus semua kenangan, kehangatan, dan rasa bahagia itu..
selamat..
biar air mata ni membanjiri jiwaku yang penuh luka..
biar makin pedih..

aku terlalu payah untuk melupakanmu..
itu saja,,

Permalink 1 Komentar

Peradaban Lintang Telah Usai

22 Oktober 2009 at 4:45 pm (catatan perih)

Jangan memberikan sebuah peradaban hati pada orang yang sekiranya tak dapat dipercaya. Kelelahan yang amat sangat telah mengaburkan padanganku, jadi kini tak akan lagi aku memberikan peradaban hatiku pada orang yang tidak bisa dipercaya. Aku punya hati yang terlalu lapang untuk diporakporandakan oleh senyuman kabutnya itu, senyuman yang menghancurkan sistem penglihatanku. Penglihatan tentang peradaban hati yang lain.

Mungkin dia bahagia sekarang karena peradaban hatiku telah hancur. Dia yang terlalu aku percaya akhirnya menghancurkan segalanya tanpa sisa, tak memberikan aku sedikitpun rasa lagi. Sampai sekarang aku masih bisa membayangkan senyumnya, namun tak bisa kurasakan lagi kehangatannya. Tak ada kehangatan buatku disana. Peradaban cintaku telah hancur lebur.

Hari ini mendung menggantung di tempat yang sama ketika peradaban hati ini dihancurkan olehnya. Dan di waktu yang sama pula. Aku duduk bersama semangkuk sup buah yang menjadi minuman kesukaanku bersamanya. Di bangku yang sama meski dengan hari yang berbeda dan tentu saja tanpa dia. Senyumannya menjadi kabut di antara sekian banyak senyum yang beredar. 20 Mei 2009, hari itu adalah hari ini di masa lalu. Dan aku merindukan dirimu sebelum itu. Senyuman kabutmu itu. Bodohnya, seharusnya kau jelas-jelas menjadi orang paling tak bisa dipercaya di dunia ini, namun mengapa aku harus menjadikan peradaban hatiku sebagai peradaban Lintang? Padahal aku jelas-jelas telah dihancurkan olehnya. Akh! Aku memang sangatlah bodoh dan tolol. Baca entri selengkapnya »

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Next page »